expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 06 Juli 2011

Kali Gendol Tak Mampu Lagi Tampung Material Merapi, Bisa Jadi Bencana Baru di Musim Hujan

Kali Putih saat terjadi banjir lahar dingin di Magelang, Jawa Tengah. Material lahar Gunung Merapi yang sudah tak tertampung lagi di kali bisa menimbulkan bencana baru saat memasuki musim penghujan. (FOTO: Serunai)

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Subandrio, mengatakan, pascaerupsi besar 2010 kondisi aliran Sungai Gendol di Kabupaten Sleman sudah penuh dengan material lahar Gunung Merapi.

"Bahkan di beberapa titik yang kami pantau dengan citra satelit dan survei darat menunjukkan bahwa timbunan material vulkanik ini justru lebih tinggi dari kawasan di kiri-kanannya," katanya di Sleman, Rabu.

Ia mengemukakan, kondisi itu sangat rawan saat musim hujan mendatang. Jika terjadi banjir lahar, katanya, material itu bisa meluap ke berbagai tempat.

Subandrio, mengatakan, erupsi Merapi setelah letusan Oktober dan November 2010 telah mengubah kondisi gunung teraktif di dunia tersebut.

"Akibat letusan Oktober-November lalu, Merapi lalu membentuk kubah dengan diameter 500 meter dan membuka sejauh 400 meter ke arah selatan," katanya.

Ia mengatakan, karakteristik letusan Merapi biasanya mengikuti arah kubah itu dan hal itu berarti bila terjadi letusan kembali, awan panas akan mengarah ke selatan.

"Sebelumnya kubah Merapi ini mengarah ke arah barat dan barat daya, kubah yang mengarah ke arah barat tersebut terbentuk akibat letusan Merapi pada 1930 dan 1931. Sejak 1780 hingga 2010 Merapi telah meletus 100 kali dan sejak 1930 itu setidaknya Merapi pernah meletus sebanyak 20 kali dan arah awan panas mengikuti kondisi kubah," katanya.

Bila letusan Merapi normal, katanya, biasanya aliran awan panas akan sejauh tujuh hingga delapan kilometer dan umumnya juga mengikuti aliran sungai berhulu di Merapi. "Dengan asumsi terbentuknya kubah akibat letuhan 2010 yang ke arah selatan, maka diprediksi letusan berikutnya akan mengarah ke selatan, sehingga wilayah selatan Merapi akan sangat berbahaya untuk ditinggali," katanya.

Akibat erupsi 2010 tersebut, katanya, saat ini kawasan selatan Merapi sudah tidak ditumbuhi pepohonan lagi dan sebagian kawasan itu juga sudah menjadi tumpukan material Merapi.

"Jadi kondisinya ibarat jalan tol, tidak ada lagi hambatan bagi awan panas untuk meluncur ke bawah," katanya.


Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara

Minggu, 26 Juni 2011

Merapi Area Reconstruction to Take Three Years



A village is covered by mud flow from Mount Merapi in Yogyakarta on January 10, 2011. (FOTO:Altamira / AFP - Getty Images -MSNBC)
  
ANTARA, Magelang. The process to reconstruct and rehabilitate the Mount Merapi area is expected to be finished in two to three years , Public Works Minister Djoko Kirmanto said here on Saturday.

"Currently we are making a master plan for the rehabilitation and reconstruction process," said the minister.

He said public facilities and housing complexes in the area were severely damaged by cold lava flows from the eruptions of Mount Merapi last October 2010.

"Apart from bridges and roads, several sabo-dams are also in damaged condition. We expect to gradually repair the damaged sabo-dams because we have a limited budget," said the minister.

Meanwhile, Chief of Magelang district, Singgih Sanyoto, said cold lava floods had caused damage to 21 bridges.

The cold lava also carried away 129 houses in the district leaving other 307 houses severely damaged and 129 experiencing light damage. Five schools were also damage due to the disaster.

The 2,968 meters (9,738 feet) Merapi erupted on October 26 until November 30, 2010 that had left 350 people dead and at least 350,000 others had been made displaced.

The volume of cold lava entrenched on the upper parts of the volcano is estimated at least 140 million cubic meters, whereas the capacity of the infrastructure to tame the volcano downstream is only for 20 million cubic meters, according to the Public Works Ministry.

The cold lava makes it downward onslaught through 15 rivers (Putih, Blongkeng, Pabelan, Woro, Gendol, Boyong, Krasak, Batang, Senowo, Trising, Opak, Bebeng, Kuning, Apu dan Lamat) and from time to time have overflowed the rivers.

A total of 244 dams constructed to hold the smashing cold lava along the streams of the 15 rivers and most of the times can not function properly due to the huge capacity of the lava.

SOURCE: Antara News Agency, |Sat, 06/25/2011 

Selasa, 14 Juni 2011

PascaErupsi: Warga 5 Kilometer dari Merapi Direlokasi

Glori K. Wadrianto

Anak-anak pengungsi korban banjir lahar dingin di lokasi pos pengungsian Tersan Gede, Magelang, Jawa Tengah. (FOTO: SERUNAI)

MAGELANG, KOMPAS.com — Sebanyak 385 kepala keluarga  yang tinggal di lereng Merapi dan terkena langsung erupsi di wilayah Jawa Tengah akan direlokasi pada tahun ini. Mereka adalah warga yang jarak rumah dengan puncak Merapi kurang dari 5 kilometer.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Jawa Tengah HM Tamzil mengatakan, mereka adalah warga yang tinggal di dua wilayah, yakni Kabupaten Magelang dan Klaten. "Tahun ini, 385 KK (kepala keluarga) dulu, ini tahap pertama," ujar Tamzil, Selasa (14/6/2011).

Terkait dengan rencana itu, warga diminta melakukan relokasi secara mandiri. Mereka bisa mencari dan membangun rumah di tanah yang akan mereka jadikan tempat tinggal. "Pemerintah akan memberikan bantuan uang Rp 30 juta per KK.Tanah yang tadinya dijadikan tempat tinggal mereka di lereng Merapi akan dibeli pemerintah sesuai Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP). Kami sedang dalam tahap pendataan," katanya.

Relokasi tahap pertama ini, lanjut Tamzil, ditujukan kepada warga yang terkena dampak erupsi Merapi. Berikutnya relokasi akan dilakukan terhadap warga yang terkena dampak lahar dingin. "Kami sekarang baru menghitung jarak aman rumah dari sungai yang dialiri lahar dingin," ujarnya.

Sumber: Kompas, 14 Juni 2011